ProFiles

ProFiles

Kamis, 18 Oktober 2018

'SIKOLA PA'DARE" ; Pusat Horti di Sulawesi Tenggara


Kadet Doni
TA-ID Kolaka Timur


Desa ini sejak lama sudah dikenal sebagai kawasan atau pusat pengembangan hortikultura, sejak dimana Dana Desa belum muncul di desa ini.

Seiring dengan pemekarannya, maka lambat laun desa ini terus mengembangkan sejumlah areal kawasan rawa-rawanya yang selama puluhan tahun tidak dapat berfungsi efektif sebagai lahan pertanian lantaran selalu terendam lantara tanah yang landai dan merupakan kawasan rawa.

Maka sejak tahun lalu, melalui Dana Desanya, maka dibuatlah embung yang memanjang, longstreet, embung jalan, yang memang sangat panjang, lebih dari 1 Km. Dimana pada kedua sisi embung ini merupakan kawasan pertanian, yang terdiri atas petak-petakan sawah.

Keberadaan embung ini memang sangat efektif ;
  1. Untuk meredam genangan air, termasuk genangan banjir yang menghantam seluruh kawasan rawa-rawa, sehingga yang terkena dampaknya bukan hanya areal rawa, tetapi juga petakan sawah yang agak berada di ketinggian.
  2. Juga menyelamatkan ekosistem horitkultura dan padi ketika banjir tiba-tiba melanda sementara kondisi tanaman yang masih bunting atau belum panen, sehingga dapat berakibat pada puso.
  3. Adanya sumber-sumber air baku untuk irigasi, utamanya untuk kebutuhan hortikultura yang meskipun tidak banyak akan tetap terus dibutuhkan suplainya setiap hari dengan menggunakan mesin air yang mengalirkan air pada embung untuk areal horti yang berada di ketinggian. Pasokan air bagi horti memang setiap pagi dan sore, maka dengan bantuan mesin penyiram hasil dari Dana Desa, maka produksi horti selain volumenya semakin meningkat, jumlah musim tanam dapat dilipatgandakan dalam setiap tahunnya, apalagi masa panen horti hanya rata-rata 2 bulan atau lebih.
  4. Masih terdapat kendala pada badan embung, karena sudah mulai terjadi pendangkalan, baik oleh lumpur bawaan dari hulu sungai akibat banjir, maupun dari tanggul-tanggul yang secara perlahan runtuh. Untuk itu memang dibutuhkan tanggul beton.   
Sikola Petani
Tak jauh dari barisan embung, juga terdapat kawasan hortikultura yang luas, kira-kira 2 hektar yang merupakan tanah asset desa. Tanah ini kemudian dikelola oleh satu kelompok tani untuk berbagai tanaman horti, cabe, kol, kacang panjang, tomat, dan lainnya.

Pasokan airnya terlihat lebih lebih alami, karena adanya saluran kecil buatan yang menghubungkan antara mata air yang ada di puncak bukit dengan lahan-lahan atau bedeng-bedeng tanaman, sehingga pada setiap detiknya air tersebut membasahi seluruh lorong-lorong

Apalagi pada bagian agak jauh, yang masih susah terjangkau aliran ini, maka telah disiapkan sebuah sumur gali yang tidak pernah kering airnya walau musim kemarau.

Dengan tofografi seperti ini, dengan daya dukung dua sumber air suplai yang memadai, ditambah dengan beragam fasilitas, traktor, rumah pertemuan antaranggota kelompok tani, maka kebun horti dari tanah desa ini telah memberikan nilai ekonomi bagi petani-petani tersebut

Bahkan pada setiap bulan, Bulan menanam, maka selalu bertambah jumlah anggota yang membuka lahan-lahan perdu tersebut guna memperluas satu hamparan hortikultura tersebut.

Selain telah memberikan nilai ekonomi bagi petani setiap dua bulan atau lebih, termasuk PAD desa, maka juga telah menjadi arena belajar dan pratek bagi petani lain, bahkan telah dijadikan oleh Departemen Pertanian sebagai salah satu contoh sukses pengembangan hortikultura di Sulawesi Tenggara.

Untuk itu, Ketua Kelompok Taninya juga sudah bertekad selain mengembangkan produktifitas dan luasan, juga akan menjadi kawasan ini sebagai lahan praktek atau studi banding bagi petani-petani lainnya.

Kalau di Jawa ada Cibodas, maka Sultra ada Lalosingi, Sikola Petani Lalosingi

Begitu juga rencana kepala desanya, utamanya untuk anggaran tahun mendatang, bahwa 90 persen anggaran APBDesnya diperuntukkan untuk pengembangan kawasan hortikultura.

Karena selama ini Desa Lalosingi, H.Yunus Syam, sudah mampu memasok hasil-hasil panennya ke berbagai daerah, bahkan ada yang sampai di kapalkan ke Kalimantan, utamanya Kalimantan Timur, Jawa dan Sulawesi lainnya, bahkan sudah ada yang sampai ke Pangkalpinang. 

Komoditi yang memasuki pasar regional tersebut utamanya adalah cabe, tomat, bahkan untuk brokoli sudah ditawar untuk Mall di Kota Kendari. Menurut Ketua Koptannya, kualitas borokolinya lebih bagus, lebih segar dan lebih cepat sampai disbanding sayuran serupa apabila didatangkan dari Jawa.

Selama ini menurutnya yang menguasa pasar Mall di Sulawesi Tenggara, adalah buah dan sayuran dari Jawa, padahal dari segi kualitas pihaknya merasa lebih baik.

Tinggal yang mau diperbaiki ke depan menurutnya adalah sistem kemasan, selain lebih menarik, lebih organic, higienis, juga harus tampil lebih cantic, sehingga mall-mall dapat lebih menarik. (*)


La Ode Syahruddin Kaeba ; SIMPUL PEREKAT BAGI DESA


Sebuah Catatan Nurani dari Seorang Aswad Lipu (TAPM Buton utara) yang dengan terang  bertutur tentang pengabdian seorang penggiat desa yang telah menembus rentang waktu yang cukup panjang. Berikut goresannya.

Setiap orang adalah penulis, mereka akan menulis sepanjang hidupnya. Apapun perbuatan yang dilakukan maka itu adalah tulisan yang paling melekat dan tidak gampang menguap dalam diri seseorang. Kebanyakan orang yang paling diingat dan melekat lebih dalam adalah perbuatan yang telah dilakukan dan  lebih-lebih adalah perbuatan yang positif.

Karena itu ada sebuah pepatah Arab yang paling saya sukai dan paling saya kagumi yang mengatakan “lisanul mal akhwa min lisanul makal”, lisan perbuatan lebih kuat daripada lisan ucapan. Kebanyakan dari kita hanya kuat pada lisan ucapan tetapi lemah dalam lisan perbuatan.

Bangsa ini tidak cukup hanya mengandalkan orang-orang yang hanya berkomentar dan berteori tetapi dalam pembangunan kita membutuhkan sosok yang tidak hanya bisa berteori tetapi kita memutuhkan mereka yang bisa berbuat. Masyarakat Desa hari ini butuh sosok yang bisa selalu bersama dan berjuang bersama. Sosok Syahrudin Kaeba telah membuktikan dirinnya tidak seatas pada lisan ucapannya tetapi sudah bertindak cukup jauh. Beliau tidak lagi berada pada tataran retorika lisan tetapi sudah jauh melangkah dalam pelaksanaan pembangunan Desa.

Pak Syahrudin Kaeba adalah sosok yang telah menuliskan kisah yang cukup panjang dalam setiap benak orang-orang Desa. Beliau telah mewakafkan cukup banyak kehidupannya hanya untuk mengangkat kehidupan orang Desa.

Sudah cukup banyak Desa-Desa yang beliau jelajahi di Sulawesi Tenggara. Syahrudin Kaeba sadar bahwa membangun Desa adalah membangun Indonesia karena itu masa depa bangsa ini ada di Desa. Dengan nada yang sama, Moh.Hatta pernah bertutur bahwa Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar dari Jakarta, Idonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin kecil yang ada di Desa.

Kita semua menyadari bahwa sangat sedikit dari kita yang mencoba untuk mewakafkan sebagian hidupnya untuk membangun masyarakat Desa. Hanya orang-orang yang memiliki kepekaan cukup tinggi yang mampu untuk membenamkan diri untuk membangun kehidupan orang-orang Desa. Kebanyakan dari kita hari ini hanya melihat masyarakat Desa seagai masyarakat terbelakang dan cenderung untuk menjauhi mereka.

Sebagaian besar dari kita pulang atau melihat Desa dengan cara kita melihat sendiri. Banyak para sarjana yang kembali ke Desa hanya membawa teori-teori mereka tanpa mampu berbuat banyak dalam meningkatkan kehidupan masyarakat Desa.

Saat ini kita memliki kaum terpelajar terbesar dari zaman apapun tetapi banyak dari para kaum terpelajar kita yang tidak mampu membawa perubahan besar pada kehidupan masyarakat Desa. Mungkin yang kita butuhkan hari ini tidak cukup hanya banyak memiliki kaum terpelajar yang banyak memahami teori tetapi hari ini kita butuh sosok yang mau bertindak dan melakukan perubahan.

Sosok seperti Syahrudin Kaeba harusnya mejadi inspirator bagi kita. Beliau telah banyak berjasa dalam mewjudkan pembanguan masyarakat Desa. Beliau sudah puluhan tahun memberikan hidupnya hanya untuk menjadikan masyarakat Desa bisa hidup layak sebagaimana kehidupan masyarakat perkotaan.

Sebagai sosok yang telah banyak mewakafkan kehidupannya untuk berbakti dalam membangun Desa maka tidak berlebihan kalau hari ini beliau kita beri dukungan ntuk memperjuangkan kehidupan masyarakat Desa dalam bingkai legislatif.

Dengan hadirnya beliau pada kursi legislatif akan mampu memberikan iklim yang baru tidak hanya pada ruang-ruang kantor legisatif tetapi juga mampu merubah iklim kehidupan Desa lewat kebijakan-kebijakan yang lebih luas dan bisa dirasakan oleh masyarakat secara luas. Kita membutuhkan sosok yang tidak hanya memahami kehidupan masyarakat Desa di legislatif nanti tetapi juga mereka yang pernah membaur dengan orang-orang Desa.

Sosok Syahrudin Kaeba telah menjalin perikatan yang kuat dengan orang-orang Desa. Sehingga saya sangat yakin bahwa beliau sangat memahami dan merasakan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Kita semua berharap bahwa semoga beliau bisa duduk di kursi legislatif. Hanya pada pundak beliaulah kita bisa menaruh harapan besar dalam membawa perubahan pembangunan masyarakat Desa. (*)

Senin, 03 September 2018

In House Training SiPeDe P3MD-PID Sultra

Sultan Darampa
TAPP MIS-PID P3MD Sultra

Sejumlah pendamping desa teknik infrastruktur (PDTI) yang didamping para tenaga ahli dari beberapa kabupaten terdekat dari Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara bersama dengan TAPP PSI, TAPP-ID dan sejumlah TAPP lainnya, serta sejumlah operator, menggelar in house training bersama di Kantor KPW 6 Sulawesi Tenggara, Senin (3/9) pagi ini.

In House Training ini dimaksudkan untuk mengconnecting antara SiPeDe (sistem informasi pembangunan desa) yang dilakukan secara online dengan sistem manual off line (exel).

TAPP-PSI Nurdianto mengungkapkan bahwa kegiatan ini memang diorientasikan untuk memperkuat sistem pendataan online APBDes yang langsung diakses dan dikirim dari desa-desa melalui PDTI untuk kemudian bisa terbaca secara nasional.

"Kami sengaja mengundang sejumlah PDTI dan TAPM yang selama ini mengurusi soal APBDes SiPeDe, untuk me-link-kan, dan mencocokkan antara data manual APBDes dengan sistem data onlinenya," ungkapnya.

Sementara itu TAPP-ID, Darmawansyah menambahkan bahwa pentingnya keselarasan dalam optimalisasi sistem pengoperasian pendataan, termasuk di dalamnya data-data infrastruktur desa yang sudah sekian lama memang sudah connet juga di SiPeDe.

Tapi meski demikian tetap pihaknya terus melakukan pemantauan tiap hari, apalagi dalam rangka updating data secara harian.       

Rabu, 29 Agustus 2018

Talk Show Pertama di Indonesia 'Bersama Berkarya untuk Desa'

Sultan Darampa
TA MIS-PID Sultra

KPP P3MD-PID Sultra La Ode Syahruddin menjelaskan peran-peran P3MD-PID

Itu topik yang muncul dalam Talk Show RRI- Kemendesa PDTT RI yang berlangsung tanggal 28 Agustus 2018 di halaman depan Kantor RRI Kendari. Talk Show yang pertama kali dilakukan oleh dua lembaga negara/publik ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu La Ode Syahruddin Kaeba (KPP P3MD-PID Sultra), Abdurahman Saleh (Ketua DPRD Sultra) dan Direktur LPU RRI Pusat Godlief Richard Poyk.

"Menghadirkan negara di desa-desa". Itu penegasan La ode Syahuriddin Kaeba, ST. pada Talk Show RRI Kendari - Kementerian Desa dan PDTT RI di halaman RRI Kendari, Selasa sore (28/8).
Pernyataan Pria kelahiran Muna ini semakin menguatkan peran-peran Kemendes dengan Dana Desa yang dikawal oleh para pendamping dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya kekuatan-kekuatan sosial, kekuatan ekonomi, budaya, dan kekuatan politik berskala desa, yang dapat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan pembangunan kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.

La Ode Syahruddin, selain pembangunan infrastruktur desa dan peningkatan Sumber Daya  Manusia, alokasi dana desa tersebut telah menurunkan jumlah desa sangat tertinggal dari sebelumnya 12 persen menjadi 6 persen dan desa tertinggal dari 72 persen menjadi 57 persen. Disisi lain untuk desa berkembang mengalami kenaikan yang tadinya 12 persen menjadi 18 persen, begitupula dengan desa maju, naik 0,2 persen.

Ketua DPRD Sulawesi Tenggara Abdurrahman Saleh menilai perkembangan desa-desa yang ada di Sulawesi Tenggara sudah semakin maju. Hasil-hasil pertanian dan perikanan masyarakat yang sebelumnya kurang mendapat pangsa pasar yang besar kini sudah menembus pasar internasional. 

Dirinya juga berkomitmen untuk memperjuangan kemandirian desa, sehingga desa-desa yang ada di Sulawesi Tenggara bisa sejajar dengan desa lain di Indonesia yang sudah maju.

Direktur Layanan dan Pengembangan Usaha (LPU) RRI, Godlief Richard Poyk menjelaskan, RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik selalu mendukung program pemerintah dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Dijelaskan, sejak dulu RRI selalu konsisten menyajikan informasi bagi warga pedesaan. Tujuannya untuk memotivasi warga desa agar bisa lebih sejahtera dan  mandiri.

“Radio Republik Indonesia itu memiliki fungsi sosial, bagaimana mencerdaskan masyarakat, bagaimana menghibur masyarakat dan bagaimana memberikan informasi kepada mesyarakat. Tetapi juga, Radio Republik Indonesia harus menjadi filter dan sebagai alat untuk memberikan informasi yang sehat khususnya kepada warga desa,”  Tutur Godlief Richard Poyk. (*)


Sabtu, 04 Agustus 2018

MARI BELAJAR BERSAMA PETANI DI SBD MUNA

Abd.Rahman 
TA-TTG MUNA

Sanggar Belajar Desa Kab.Muna-Sultra untuk Kelas Petani

Desa Tasaka merupakan kawasan yang sangat potensial dalam mengembangkan berbagai produk unggulan, utamanya seperti pengembangan kacang tanah.

Mulai bulan depan, para petani telah bersepakat untuk menanam kacang tanah di berbagai kawasan lahan yang selama ini merupakan lahan kritis, lahan-lahan yang tidak produktif, yang selama ini dibiarkan terlantar.

Tetapi ada juga lahan-lahan dalam kawasan tersebut, ditanami oleh petani ala kadarnya, misalnya ada yang tanam kacang, sebelahnya tanam jagung, di sebelah yang lain beda pula tanamannya.

Sebelum musim tanam secara besar-besaran yang didanai oleh Dana Desa, maka sejumlah warga telah pula melakukan uji coba tanaman kacang tanah, hasilnya memang sungguh menggembirakan.

Maka untuk tanaman kacang tanah dengan menggunakan Dana Desa ini adalah luasan berkisar 250 hektar yang terdiri atas beberapa kawasan. Dimana kawasan ini memang disekat-sekat oleh ekosistem hutan dan tanaman jangka panjang lainnya.

Kacang tanah di daerah ini sebelumnya memang telah menjadi salah satu tanaman penghasilan warga secara alternative, namun tidak menjadi pilihan utama, karena selain tidak adanya kebijakan serentak dari Kades.

Kemudian, kemampuan warga / petani untuk membeli bibit dalam jumlah memadai dikarenakan lantaran ekonomi mereka, apalagi ditambah dengan saprodi yang terkadang mencekik.

Kesepakatan-kesepakatan menjadi penting antara petani, kesepakatan adat, seperti sistem menjaga hama, mulai musim tanam, menjadi konsensus antarpetani sehingga dapat produksinya lebih tinggi.

Desa Rangka 
Rangka merupakan desa yang memiliki lahan-lahan pertanian, termasuk pertanian perkebunan (huma) untuk tanaman pagi yang luas, meski memang berada pada spot-spot yang diantarai oleh kawasan hutan.

Yaitu, luas lahan sekitar 300 hektar untuk pengembangan padi verietas lokal, yaitu padi beras merah, yang selama ini memang masih bertahan, atau masih ditanam oleh masyarakat.

Harga pasaran di luar Muna varietas padi merah ini masih terhitung mahal, antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000 perliternya. Dengan demikian maka prospek pengembangan varietas lokal dengan dukungan dana desa menjadi masih sangat prospek.

Sistem pertanian dengan varietas lokal ini akan menggunakan pupuk dan saprodi alami. Sehingga pertanian alami selain untuk meningkatkan produktivitas, juga untuk melestarikan sistem pertanian yang aman untuk konsumsi masyarakat. 
 
Sanggar Belajar
Sanggar belajar desa yang diawali di Kecamatan Kabawo yang kemudian ditularkan ke desa-desa atau ke kecamatan tetangga sudah mulai menampakkan hasil, antara lain, yakni SBD didirikan untuk memerankan diri sebagai simpul pengelolaan informasi antarwarga atau antarpetani dalam pengembangan program-program di desa-desa.

SDB didirikan sebagai tempat-tempat pelatihan, pendidikan, dan training-training (OJT, IST), yang ditujukan kepada warga, para petani, dan para pendamping untuk pengetahuan dan keterampilan khusus.

SDB juga ditujukan untuk melakukan konsilidasi, sosialisasi, bahkan menjadi tempat diskusi untuk aparat desa, termasuk untuk pengolahan data, migrasi dan lainnya. 

Sangar belajar desa yang kemudian dikenal dalam Bahasa Wuna adalah "Poangkatau". Nama ini disematkan di Desa Lakandito Kec. Kabangka.

Dimana dalam pemahaman warga desa ,adalah kebersamaan dlm bersikap dan bertingkah,atau saling menghargai satu sama lain,serta menjalin hubungan yang harmonis antara sesama. (darampa)

Berdasarkan hal tersebutlah, sehingga Nama "SBD" Desa Lakandito "Poangkatau".
Dalam kaitannya dengan fokus utama  SBD yang ditekankan pada penguatan 3 Kelembagaan dalam desa :
1. Kelembagaan PEMDES
2. Kelembagaan Masy. desa
3. Kelembagaan ekonomi Desa,

Filosofi dari SBD “Poangkatau”, Warga dan pemerintah desa berharap ketiga kelembagaan ini dapat saling menopang, saling menghargai, bersinergi dan memiliki hubungan yang harmonis untuk bersama-sama mewujudkan “Visi Bersama Desa” Yang telah dibangun Menuju Desa Mandiri. (*)


Kamis, 02 Agustus 2018

INOVASI DESA MULAI BERTUMBUH DI SULTRA


Sultan Darampa
TA-MIS PID P3MD SULTRA
 
Kadis DPMD Sultra, Tasman Taewa disamping Pj Gubernur Sultra (baju batik hijau) dan KPP PID-P3MD Sultra La Ode Syahruddin Kaeba (batik merah dibelakang Kadis)

“Program Inovasi Desa, sangat membantu memperlancar pengarusutamaan pembangunan desa, dan Sulawesi Tenggara yang terdiri atas 15 kabupaten telah melaukan berbagai lompatan pembangunan yang sumber pendanaannya berasal dari Desa Desa,” ungkap Pj Gubernur Sulawesi Tenggara, Drs.Teguh Setyabudi pada saat membuka Rapat Koordinasi PID Propinsi Sulawesi Tenggara, di Kendari, 2 Agustus 2018.
   

Menurutnya, dengan PID ini maka laju pembangunan desa, apalagi yang selama ini sudah dilakukan melalui P3MD (program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa), yang telah menyentuh sekitar 1.917 desa yang telah mendapat pendampingan oleh para pendamping desa.

Ia meminta agar melalui Rakor ini, betul-betul lahir kesepakatan-kesepatan untuk memaju inovasi-inovasi desa yang memungkin desa untuk maju lebih cepat, lebih mandiri, dengan cit-cita kesejahteraan rakyatnya.

Bahkan dalam perjalanannya ke 15 kabupaten dan 2 kota di Sultra, telah melihat beberapa kemajuan dari program ini dimana desa-desa telah melalukan proses-proses transparansi dalam pengelolaan dana desa, seperti yang terlihat pemasangan spanduk atau baliho yang besar di sepanjang jalan-jalan, atau di depan kantor desanya.


“Saya bangga dan sudah menyaksikan langsung dari proses ini, mulai dari perbatasan Sulawesi Selatan, di Kabupaten Kolaka Utara, sampai di pulau-pulau sudah saya kunjungi, dan inovasi ini memang mulai bertumbuh untuk memacu pembangunanya,” lanjutnya.

Pada kesempatan ini, hadir selain Pj Gubernur Sultra, juga Kadis DPMD Sultra yang saat ini juga menjabat Pj Bupati Kabupaten Konawe, termasuk kadis-kadis DPMD, Bappeda, Pendidikan, Diseperindag, wakil LSM, dari masing-masing 15 kabupaten di Sultra.

Kadis DPMD Sultra, Tasman Taewa juga membeberkan kepada Pj Gubernur Sultra bahwa sejak Dana Desa bergulir di Sultra pada 1.917 desa, dan pertumbuhan pembangunan desa melalui Dana Desa telah berjalan dengan baik.

Sementara itu, KPP P3MD-PID Sulawesi Tenggara, La Ode Syahruddin Kaeba menuturkan bahwa sekitar 1.200 pendamping yang bekerja secara professional di Sultra, telah melakukan berbagai tahapan pendampingan sesuai dengan mandatnya.


“Kita juga terus melakukan berbagai langkah-langkah antisipatif selain daripada tupoksi utamanya kita, termasuk bagaimana membangun dan mendorong tumbuhnya pusat-pusat Prudes atau Prukades, yang kemudian dilink-kan dengan sumber-sumber pasar, utamanya untuk investor, seperti pasar regional untuk bawang merah yang telah menjadi Prukades Kab.Buton Selatan, ada cabe merah di Koltim yang sudah kerjasama dengan salah satu perusahaan makanan terbesar Indonesia,” tutupnya. (*)

Rabu, 01 Agustus 2018

DANA DESA KUATKAN EKPSOR RAJUNGAN


La Supuri
TA-TTG BUTENG


Desa ini terletak di ujung tanjung Selat Lasongko, di timur, yang menjadi penghubung antara tanjung sebelahnya yang merupakan induk dari Kecamatan Mawasangka Timur.

Batubanua merupakan desa yang berpenduduk 506 jiwa, dengan jumlah 165 KK, yang terdiri atas 120 KK nelayan, dengan luas wilayah desa 911 hektar.

Sebagai desa-desa pesisir yang menjadi ciri khas utama, adalah kehidupan warganya yang mengandalkan nelayan tangkap. Selama bertahun-tahun selain nelayan tangkap ikan yang jauh melaut ke samudra luas, juga adalah nelayan tangkap kepiting rajungan.

Nelayan ini bukan hanya bagi kaum lelaki, tetapi juga bagi kaum ibu-ibu, utamanya bagi perempuan kepala rumah tangga. Di desa ini sekitar 30 orang perempuan kepala rumah tangga yang mengandalkan hidupnya dari kepiting rajungan ini.

Namun selama ini, kepiting para nelayan tangkap itu hanya langsung menyetornya kepada para pengumpul. Kekurangannya, karena biasanya hanya pengumpul yang menentukan harga sepihak, apalagi kalau nelayan telah meng-bon duluan, dan itulah yang terus-menerus terjadi. Hal ini dikarenakan karena memang pabrik pengolahan daging kepiting rajungan di desa itu belum ada.

Dengan kondisi tersebut, maka Kades mengeluarkan kebijakan melalui DD tahun 2016 dimana 15 unit kapal bantuan kepada nelayan-nelayan yang kurang mampu. Tujuannya adalah menfasilitasi penangkapan kepiting rajungan.

Karena dianggap belum memadai, maka DD t5ahun 2017 lalu kemudian disalurkan lagi bantuan pembelian kapal tangkap sebanyak 30 unit yang ditujukan kepada masing-masing kepala keluarga.


Dan tahun 2018, untuk tahap II dan III, lagi-lagi keluar lagi pembelian 15 unit kapal. Sehingga dalam tiga tahun terakhirnya, sudah ada 60 KK yang telah memiliki kapal dengan bantuan Pemdes berkat Dana Desa.

Untuk mempertinggi mutu dan produksi tangkapan, akhirnya dibentuklah BUMDes yang unit kegiatannya adalah home industri pengolahan daging kepting rajungan. BUMDes yang kerjasama dengan salah satu industri besar di Indonesia, secara khusus setiap dua hari mengambil daging-daging kepiting olahan ini untuk diekspor ke pasar internasional melalui kantor besarnya di Parepare dan Medan.

Sehingga setiap dua hari, perusahaan tersebut mengambil dan mengirim daging kepiting rajungan ini ke gudang-gudangnya.

Unit pengolahan ini mempekerjakan 10 orang perempuan, yaitu ibu-ibu rumah tangga yang sudah tidak produktif lagi kerja di pantai atau melaut, sehingga yang selama ini menganggur, maka dengan home industri ini mereka sudah dapat membantu penghasilan suaminya.

Setiap pekerja mendapatkan upah Rp 20.000 perKg dari BUMDes. Dimana setiap hari para ibu-ibu yang berjumlah 10 orang ini dapat mengupas daging tersebut sebanyak 5 Kg atau lebih, sehingga pendapatannya perhari Rp 100.000 perhari. Itu kalau musim krisis, artinya kurang pasukan kepiting yang masuk karena musim ombak.

Nelayan pun demikian, karena musim ombak, mereka hanya mampu menjual tangkapannya kira-kira Rp 200 ribu persetiap kali turun melaut. Tetapi, kalau musim tenang, dimana banyak kepiting, rata-rata setiap nelayan dapat meraup keuntungan Rp 2 juta perminggunya.


Apalagi dengan 60 unit bantuan kapal dari DD ini, maka semakin meningkatkan pendapatan dan ekonomi masyarakat.

Dengan pembelian dari pengumpul Rp 50 ribu perKg gelondongan (kepiting utuh), setelah diolah kemudian dijual dalam bentuk daging yaitu sebesar Rp 250 perKg ke perusahaan.

BUMDes ini setiap 2 hari mengirim ke perusahaan rata-rata angara 17 Kg – 20 Kg. Tetapi kalau musim subur kepiting, maka dapat diolah lebih dari angka tersebut. Sehingga dengan keberadaan DD dan BUMDes ini secara pasti aktivitas ekonomi warga yang kurang mampu sudah dapat meningkat, apalagi memang ada dukungan berupa peralatan tangkap, kapal.  (*)

MENU UTAMA

Koptan Rumput Laut Buton Tengah Deklarasikan Gus Imin Presiden 2024

LAKUDO – SC. Sebanyak 36 orang anggota Kelompok Tani Rumput Laut Desa Matawine Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Sulawesi Tenggara me...