ProFiles

ProFiles
Tampilkan postingan dengan label Embung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Embung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

"Manfaat DD, Warga Pulau Nikmati Air Tawar"

Anex Wong 'La Taane'
TA-TTG BUSEL


Sudah tidak berbilang tahun, dan tidak ada lagi generasi saat ini yang mengingat dengan persis bagaimana Pulau Kadatua, khususnya Desa Kaofe Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara menghadapi hari-harinya tanpa air tawar.

Bulan berlanjut, dan tahun berganti. Air tawar menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawarkan lagi sehingga untuk memenuhinya terpaksa harus dipasok dari daratan besar. Itulah kebiasaan yang telah menelan ratusan tahun.

Namun semenjak adanya Program Dana Desa dari Kemendes, PDT dan Transmigrasi RI, maka warga mulai berbenah. DD tahun 2016 sebesar Rp 498 juta lebih untuk bangun embung buatan tersebut. Kemudian dilanjutkan untuk perpipaan ke rumah-rumah penduduk dan pengadaan tandon sebesar Rp 635 juta lebih pada anggaran DD 2017. 

Luas 'embung' alias bak yakni  6 meter x 10 meter, dan tinggi 3 meter, untuk menampung air tawar dari sumber mata yang dialirkan melalui tiga buah mesin. Dengan demikian maka 191 rumah yang ada di Desa Kaofa sudah menikmati air tawar langsung dari dalam rumahnya.

Sumia, Kepala Desa Kaofa menceritakan bahwa sumber air yang digunakan untuk mengisi bak penampung tersebut berasal dari mata air yang berjarak sekitar 800 meter dari pemukiman warga, namun di wilayah Desa Uwemaasi, pemekaran dari Desa Kaofe. 

"Volume air pada mata air tersebut tidak berkurang (kedalaman air sekitar 1,5 meter) meskipun disedot dengan 4 mesin (3 dari desa Kaofe dan 1 dari Desa Uwemaasi) secara bersamaan, tetap tidak akan habis," lanjutnya.

“Meskipun hanya terisi setengahnya, sudah dapat memenuhi kebutuhan air seluruh warga desa yang berjumlah 191 rumah tangga, itupun tidak habis di baknya,” terangnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan air pada saat listrik padam (PLN hanya menyala pada malam hari, mulai pukul 18.00 sampai 06.00), maka Pemdes mengalokasikan dana untuk pengadaan tandon ukuran 650 liter setiap rumah (190 unit).

Pada awal bulan Januari 2018 lalu, pengelolaan air ini diserahkan ke BUMDes untuk pengelolaannya, dan sesuai dengan keputusan musyawarah desa, setiap rumah (pelanggan) dikenakan biaya beban Rp 5.000 dan pemakaian air Rp 1.000/m3.  Berdasarkan catatan pengelola, dalam setiap bulannya, air digunakan warga rata-rata 2000 m3.

Soal ketersediaan air ini stabil karena disekitar mata air tersebut terdapat hamparan hutan alam yang rimbun dan tidak terjamah oleh penduduk setempat, karena dianggap keramat, hutan larangan. (*)

Rabu, 21 Februari 2018

EMBUNG MEKAR JAYA DARI ANGGARAN KEMENDES

Muhammad Ishak Isi, AMD
KOORKAB TAPM BUTUR


Embung Desa Mekar Jaya Kecamatan Kulisusu Kab.Buton Utara dibangun dengan menggunakan Dana dari Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi melalui Dirjen PPMD.

Letaknya tidak jauh dari areal persawahan petani kurang Lebih 100 M. Luas Embung yang dibangun tersebut adalah 20 x 20 meter dengan ketinggian 1,6 meter, dengan kemampuan daya tampung sekitar 500 meter kubik.

Sedangkan sumber air baku embung, berasal dari mata air yang berjarak 350 meter dari embung. Antara embung dengan sumber air, menggunakan pipa besar yang sepanjang masa terus mengalir menggenangi embung buatan tersebut.

Cadangan air baku juga disiapkan apabila sewaktu-waktu pasokan dari mata air berkurang yaitu sebuah chekdam alami yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari embung.

Embung ini, akan mampu menyuplai air irigasi sekitar 40 hektar sawah-sawah yang ada di lembah, atau di kaki bukit, sehingga sawah-sawah tersebut mulai tahun ini akan berproduksi dua kali dalam setahun, atau panen raya lima kali dalam dua tahun.

Selain itu, embung ini bagi warga Desa Mekar Jaya dan sekitarnya juga telah dimanfaatkan sebagai arena wisata, permandian air tawar. Dan setiap sore hari sampai menjelang petang, embung ini telah diramaikan oleh warga. (*)


Sabtu, 13 Januari 2018

MENYIGI RAWA KEHIDUPAN

MUHAJA 
Korkab TAPM Konut 

Kabupaten Konawe Utara yang terletak paling ujung utara dari wilayah Sulawesi Tenggara, berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah, Laut Banda di timur, barat dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Konawe. Dimana awalnya Konawe merupakan induk dari Konawe Utara.

Konawe Utara yang awalnya merupakan daerah yang perawan ekosistem hutannya, kemudian beberapa tahun terakhir ini berobah menjadi lahan-lahan perkebunan sawit raksasa. Sejumlah perusahaan perkebunan besar telah menanam ratusan ribu bahkan jutaan pohon sawit di daerah ini, utamanya pada Kecamatan Langgikima, Wandale, Wiwirano dan sebagian Oheo.

Sehingga bagian utara Konawe Utara ini yang terlihat adalah hamparan sawit disepanjang lepas dari Kecamatan Asera hingga perbatasan Sulawesi Tengah. Dengan ekosistem sawit ini secara pasti telah meminggirkan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya alam mereka, yang kemudian beralih menjadi pekerja. Namun keuntungan yang didapat oleh daerah-daerah ini karena terbukanya akses jalan aspal antara Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Tenggara yang juga melingkar ke barat Sulawesi Selatan.

 Untungnya dalam pergulatan dan dalam kepungan secara perlahan-lahan desa mulai bangkit, dan memandirikan dirinya, melalui Dana Desa, dimana selama ini desa memiliki ketergantungan terhadap perkebunan sangat besar, utamanya untuk dukungan infra jalan antara perkebunanan dengan jalan desa, fasilitas sumur umum, dan lainnya.

   Untungnya Konawe Utara tidak hanya didominasi beberapa kecamatan seperti yang tersebut di atas, masih ada beberapa kecamatan yang mengandalkan pengelolaan sumber daya alamnya yang bertumpu pada komoditi lain, seperti merica, cengkeh, dan lainnya.

Salah satu sumber daya alam yang tersedia di Bumi Konawe Utara adalah ekosistem danau atau rawa yang sangat luas, membentang dari lembah ke lembah yang diapit dan diantarai oleh bukit dan aliran sungai.

Di sepanjang pesisir rawa yang ditumbuhi tanaman liar dan perdu, berdiri tegak bukit-bukit karang yang seolah menggapai langit, gunung kapur yang belum terjamah tangan-tangan manusia itu menjadi benteng alam, yang menjaga volume air rawa agar tetap stabil sepanjang abad. Seolah rawa dan ekosistem gugusan gunungnya membentang hingga ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tengah menjadi stabilisator antara daratan dengan lautan Tanah Semenanjung Tenggara ini.

Dengan ketersediaan alam seperti itu, maka masyarakat adat Ohoe (yang kemudian menjadi kecamatan) secara terus menerus menjadi ‘sang penjaga’ akan ekosistem tersebut, dan sebagai penjaga tentu juga menggantungkan hidupnya dari situ.

Maka wajar saja, siklus kehidupan ini telah menyediakan beragam species ikan-ikan air tawar dalam rawa, mulai dari ikan gabus yang ukuran sangat besar, ikan lele, dan sejumlah species yang tidak dijumpai di negeri-negeri lain, hanya terdapat di rawa ini dengan nama lokal setempat.

Warga Desa Bundewatu dan desa-desa tetangganya telah menjadi rawa ini sebagai lahan penghidupan sehari-harinya. Setiap hari warga, laki-laki dan perempuan terlihat hilir mudik di sepanjang sungai yang menghubungkan beberapa danau, baik yang pergi-pulang memancing, maupun sekadar jasa transportasi yang menghubungkan beberapa kampung dengan kampung lainnya, yang menggunakan jasa katinting pergi-pulang ke kebun-kebun mereka.

Di lain saat, terlihat rombongan yang sedang pergi berburu, karena di kaki-kaki bukit yang melingkari rawa ini masih sering terlihat binatang buruan yang menjadi konsumsi istimewa bagi masyarakat setempat.

Bahkan pada hari-hari libur, utamanya pada libur panjang, beriringan kendaraan memasuki ekosistem rawa. Tujuannya untuk menikmati keindahan rawa yang underwaternya menyimpan sejuta misteri.

“Banyak yang datang kalau hari libur, bukan saja dari beberapa warga kecamatan di sekitar Oheo, tetapi juga ada dari Kendari, ada juga dari warga pelancong Sulawesi Tengah yang sedang istirahat dalam perjalananya menuju Ibukota Sultra,” ujar nelayan perempuan yang saat itu sedang menunggui hamparan jualan ikannya.

  1. Untuk itu, Kepala Desa Bondewatu dengan perencanaan penggunaan Dana Desa tahun 2018 ; akan memperuntukkan membangun tempat pelelangan ikan air tawar yang pengelolaannya langsung oleh BUMDes Bondewuta.
  2. Disamping itu, juga membangun rumah-rumah terapung yang dapat bergerak ke semua sisi danau. Rumah terapung ini dapat dipakai untuk turis memancing sambil menikmati alam pemandangan dengan aman. 
  3. Akan mengajak Kades-kades lain dalam pengelolaan danau ini secara bersama-sama sehingga peningkatan ekonomi warga lebih baik lagi dari masa-masa sekarang. 
  4. Akan membuat teknologi pengiring ikan. Hal ini karena produksi tangkap setiap harinya tidak semua laku terjual, sehingga perlu dikeringkan, apalagi ikan kering dari danau ini cukup laku keras di pasar-pasar ibukota kabupaten dan ibukota propinsi, bahkan sejumlah warga dari kota sengaja memesan untuk kebutuhan khusus, utamanya ikan gabus bagi perempuan yang usai melahirkan atau operasi. 

Itulah pesona dan potensi danau yang mana warga secara turun-temurun telah menggantungkan penghidupannya dari rawa ini, dan rawa inilah telah terbukti telah memberikan kehidupan dari generasi sejak zaman purba. #

Kamis, 28 September 2017

PELATIHAN TATA KELOLA AIR

SULTAN DARAMPA
TA MIS-PID SULTRA


 Pelatihan Tata Kelola Air Dalam Rangka Mendukung Program Pemerintah, kerjasama antara Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta Balai Wilayah Sungai IV Dinas Kementerian PU dan Perumahan Rakyat RI yang digelar di Aula Kantor DPMP Sultra.

Hadir dalam kegiatan tersebut, selain dari ketiga instansi tersebut, juga tenaga ahli pendamping desa, dan tenaga ahli pembangunan kawasan perdesaan. Keduanya dari Program Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi RI.

Tiga pemateri yang tampil antara lain Ir.Obed Bara, Kepala Seksi Irigasi Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Pro.Sultra, Andi Asra dari Balai Wilayah Sungai IV Kementerian PU dan Perumahan Rakyat RI, Dr.Ir.Muhammad Alwi Mustaha, M.Si., Peneliti dan Koordinator Program dan Evaluasi BPTP Sulawesi Tenggara.

Pelatihan yang berlangsung hingga pukul 12.00 wita siang, Selasa (26/09/2017), membahas tiga topik yang berbeda namun saling berkaitan, dimana Ir.Obed membahas “tata kelola air irigasi di tingkat usaha tani”, Andi Asri lebih pada “peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air”, serta Alwi Mustaha lebih fokus pada pengembangan inovasi teknologi dalam tata kelola air”.

Ketiga narasumber ini memang sangat dibutuhkan dalam pengembangan pertanian, hortkultura, perkebunan dan tanaman pangan lainnya, yang memang semuanya menyimpulkan bahwa dibutuhkan kebijakan khusus dan teknologi khusus dalam mendorong peningkatan produksi pertanian.

Untuk itu, ketiganya bersepakat untuk terus mencari inovasi-inovasi yang dapat membantu para petani di desa, termasuk bagaimana merealisasikan program pemerintah, Kemendes, dalam 4 program utamanya, diantaranya adalah Embung.

Secara gamblang Alwi Mustaha menjelaskan secara teknik struktur pembangunan embung yang sangat dimungkingkan untuk dilakukan sesuai dengan kondisi dan ketersediaan alam pada masing-masing desa.   (*)

Sabtu, 26 Agustus 2017

EMBUNG LAMPEATANI

Tak lama lagi, sebanyak 240 KK warga Desa Lampeteani Kecamatan Rorowatu Kabupaten Bombana akan segera menikmati irigasi yang sumber cadangan airnya dari Embung Desa Lampeani.

Embung yang dibangun itu mengunakan Dana Desa 2017, dimana beberapa bagian sudah ditanggul, bahkan selokan yang dulunya masih alami juga telah dibeton, sehingga air yang mengalir dari embung itu semakin baik, dan nantinya akan menyuplai sedikitnya 50 hektar sawah yang ada di tiga dusun tersebut.

Diakui embung ini merupakan penyedia air bantu dari bendungan besar yang ada dalam wilayah Kolaka. Namun selama ini, irigasi dari bendungan besar tersebut sering tidak maksimal pasokan airnya, yang sebagian memang adalah buangan dari sawah-sawah yang ada di Kabupaten Kolaka.   

Jumat, 25 Agustus 2017

EMBUNG TOLANDONA MATANAYO


La Ode Hayati
Koorkab TAPM Buteng


Inilah Embung yang didesaign khusus dari pesisir pantai yang dulunya adalah padang lamun dan ekosistem mangrove. Namun seiring perjalanan waktu, ekspansi pemukiman telah mendesakkan kedua habitat ini sehingga membentuk sebuah delta.

Dimana delta yang terletak di bibir Selat Buton yang seolah danau mati, kemudian diinisiasi oleh Plt Kepala Desa Tolandona Matanayo bersama warga untuk perencanaan tahun 2018 dijadikan usulan DD tahap pertama.

Kamis, 24 Agustus 2017

EMBUN LALOWOSULA : Rp 42 Juta Perhektar Pertahun

Dengan dibangunnya embung di Desa Lalowosula Kecamatan Ladongi Kab.Kolaka Timur ini dipekirakan dapat meningkatkan produksi padi dari 4 ton/ha menjadi  6 – 8 ton/ha dengan jumlah panen 3 kali/pertahun secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. 

Bila diasumsikan harga harga gaba saat ini di petani Rp. 3.500/kg dengan produksi 4 ton/ha maka penghasilan yang diperoleh masyarakat sebelum adanya embung desa ini adalah Rp 14 juta/ha.

Dengan adanya embung desa produksi padi meningkat dengan asumsi menjadi 8 ton/ha maka pendapatan masyarakat bila dihitung sesuai harga gaba saat ini Rp. 3.500/kg maka pendapatan masyarakarRp. 28.000.000,-/ton jadi terjadi peningkatan pendapatan Rp.14 juta/ha.Bila 3 kali panen pertahun maka diperoleh pendapatan Rp 42 juta pertahun, sehingga secara otomatis dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Lalowosula.

Embung desa ini dapat dikembangkan sampai ke wilayah sekitar yaitu Desa Putemata dan Kelurahan Ladongi, sehingga dapat dimanfakan sekitar 150 hektar sawah, dan sarana air bersih untuk 50 KK. (amran)

MENU UTAMA

Koptan Rumput Laut Buton Tengah Deklarasikan Gus Imin Presiden 2024

LAKUDO – SC. Sebanyak 36 orang anggota Kelompok Tani Rumput Laut Desa Matawine Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Sulawesi Tenggara me...