ProFiles

ProFiles
Tampilkan postingan dengan label BUMDES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMDES. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2018

DANA DESA KUATKAN EKPSOR RAJUNGAN


La Supuri
TA-TTG BUTENG


Desa ini terletak di ujung tanjung Selat Lasongko, di timur, yang menjadi penghubung antara tanjung sebelahnya yang merupakan induk dari Kecamatan Mawasangka Timur.

Batubanua merupakan desa yang berpenduduk 506 jiwa, dengan jumlah 165 KK, yang terdiri atas 120 KK nelayan, dengan luas wilayah desa 911 hektar.

Sebagai desa-desa pesisir yang menjadi ciri khas utama, adalah kehidupan warganya yang mengandalkan nelayan tangkap. Selama bertahun-tahun selain nelayan tangkap ikan yang jauh melaut ke samudra luas, juga adalah nelayan tangkap kepiting rajungan.

Nelayan ini bukan hanya bagi kaum lelaki, tetapi juga bagi kaum ibu-ibu, utamanya bagi perempuan kepala rumah tangga. Di desa ini sekitar 30 orang perempuan kepala rumah tangga yang mengandalkan hidupnya dari kepiting rajungan ini.

Namun selama ini, kepiting para nelayan tangkap itu hanya langsung menyetornya kepada para pengumpul. Kekurangannya, karena biasanya hanya pengumpul yang menentukan harga sepihak, apalagi kalau nelayan telah meng-bon duluan, dan itulah yang terus-menerus terjadi. Hal ini dikarenakan karena memang pabrik pengolahan daging kepiting rajungan di desa itu belum ada.

Dengan kondisi tersebut, maka Kades mengeluarkan kebijakan melalui DD tahun 2016 dimana 15 unit kapal bantuan kepada nelayan-nelayan yang kurang mampu. Tujuannya adalah menfasilitasi penangkapan kepiting rajungan.

Karena dianggap belum memadai, maka DD t5ahun 2017 lalu kemudian disalurkan lagi bantuan pembelian kapal tangkap sebanyak 30 unit yang ditujukan kepada masing-masing kepala keluarga.


Dan tahun 2018, untuk tahap II dan III, lagi-lagi keluar lagi pembelian 15 unit kapal. Sehingga dalam tiga tahun terakhirnya, sudah ada 60 KK yang telah memiliki kapal dengan bantuan Pemdes berkat Dana Desa.

Untuk mempertinggi mutu dan produksi tangkapan, akhirnya dibentuklah BUMDes yang unit kegiatannya adalah home industri pengolahan daging kepting rajungan. BUMDes yang kerjasama dengan salah satu industri besar di Indonesia, secara khusus setiap dua hari mengambil daging-daging kepiting olahan ini untuk diekspor ke pasar internasional melalui kantor besarnya di Parepare dan Medan.

Sehingga setiap dua hari, perusahaan tersebut mengambil dan mengirim daging kepiting rajungan ini ke gudang-gudangnya.

Unit pengolahan ini mempekerjakan 10 orang perempuan, yaitu ibu-ibu rumah tangga yang sudah tidak produktif lagi kerja di pantai atau melaut, sehingga yang selama ini menganggur, maka dengan home industri ini mereka sudah dapat membantu penghasilan suaminya.

Setiap pekerja mendapatkan upah Rp 20.000 perKg dari BUMDes. Dimana setiap hari para ibu-ibu yang berjumlah 10 orang ini dapat mengupas daging tersebut sebanyak 5 Kg atau lebih, sehingga pendapatannya perhari Rp 100.000 perhari. Itu kalau musim krisis, artinya kurang pasukan kepiting yang masuk karena musim ombak.

Nelayan pun demikian, karena musim ombak, mereka hanya mampu menjual tangkapannya kira-kira Rp 200 ribu persetiap kali turun melaut. Tetapi, kalau musim tenang, dimana banyak kepiting, rata-rata setiap nelayan dapat meraup keuntungan Rp 2 juta perminggunya.


Apalagi dengan 60 unit bantuan kapal dari DD ini, maka semakin meningkatkan pendapatan dan ekonomi masyarakat.

Dengan pembelian dari pengumpul Rp 50 ribu perKg gelondongan (kepiting utuh), setelah diolah kemudian dijual dalam bentuk daging yaitu sebesar Rp 250 perKg ke perusahaan.

BUMDes ini setiap 2 hari mengirim ke perusahaan rata-rata angara 17 Kg – 20 Kg. Tetapi kalau musim subur kepiting, maka dapat diolah lebih dari angka tersebut. Sehingga dengan keberadaan DD dan BUMDes ini secara pasti aktivitas ekonomi warga yang kurang mampu sudah dapat meningkat, apalagi memang ada dukungan berupa peralatan tangkap, kapal.  (*)

Selasa, 06 Maret 2018

MARI BELAJAR BIOGAS DI SEKOLAH LAPANG LAWOILA

La Ode Alani
TA-TTG KONSEL


Desa Lawoila terletak di sebelah selatan Kota Kendari dapat ditempuh dengan perjalan darat selama ±25 Menit melalui Jalan Poros Kendari - Konda – Masagena.
Penduduk Desa Lawoila mayoritas adalah etnis Jawa, sedangkan mata pencaharian penduduk yang dominan adalah di sektor pertanian terutama tanaman pangan.

Desa Lawoila merupakan salah satu desa pemasok Tahu & Tempe ke Kota Kendari sehingga kebutuhan komoditas kedele tiap bulan sangat tinggi. Meskipun desa ini memproduksi Tahu & Tempe tetapi produksi tanaman kedele tidak memadai  sehingga kebutuhan bahan baku kacang kedele di datangkan dari daerah Jawa.   

Wilayah Desa Lawoila merupakan wilayah yang potensial bagi pengembangan komoditas kedele, apalagi didukung oleh produk unggulan yang dicanangkan oleh pemerintah desa pada tahun 2018 disektor pertanian tanaman pangan maka sangat tepat jika kegiatan Dana Desa tahun anggaran 2018 mengalokasikan pengadaan bibit dan budidaya tanaman kedele untuk mendukung Produksi Tahu & Tempe sebagai pendokrak pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. 

Solusi
  1. Adapun langkah-langkah strategis yang akan digunakan (intervensi program)  adalah sebagai berikut:
  2. Bantuan Pengadaan bibit unggul tanaman kedele.
  3. Bantuan teknis budi daya tanaman kedele. 
  4. Pelatihan teknis pemanfaatan limbah tahu menjadi biogas.


Manfaat
  1. Intervensi program baik secara fisik maupun modal usaha pada kegiatan produksi Tahu & Tempe di Desa Lawoila tersebut diatas belum konkrit, tetapi baru sebatas anjang sana memberikan motivasi kepada pekerja di tempat produksi Tahu & Tempe dan mendorong Pemerintah Desa dan BPD untuk pengembangannya secara berkelanjutan.
  2. Bantuan pengadaan bibit unggul tanaman kedele dapat memudahkan petani mendapatkan benih unggul berlabel sehingga mampu menghasilkan panen kedele dengan biji besar dan kualitas yang lebih baik.
  3. Bantuan teknis dari PPL setempat dapat dilakukan melalui Sekolah Lapang akan terjadi transfer ilmu pengetahuan kepada petani tentang tata cara budi daya tanaman kedele sehingga tanaman kedele mampu produksi secara optimal.
  4. Pelatihan teknis pemanfaatan limbah tahu menjadi biogas, dapat dilakukan kepada masyarakat secara umum sehingga masyarakat mampu menciptakan dan memanfaatkan energi terbarukan.


Jumat, 19 Januari 2018

BUMDES MANDIRI SEJAHTERA ULURINA


JUNAIDIN
TAPM-TTG KOLAKA

Salah satu dampak penggunaan dana desa yang efektif yang telah dirasakan oleh masyarakat Desa Ulurina, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka Utara, adalah gagasan dan cita-cita warga untuk memandirikan Badan Usaha Milik Desa '(BUMDes) Mandiri Sejahtera'.

Sesuai dengan namanya "mandiri dan sejahtera", warga Ulurina telah membuktikan tekadnya dalam memajukan perekonomian mereka dengan membentuk badan usaha bersama yang nantinya menjadi sumber-sumber distribusi hasil-hasil panen mereka, baik cengkeh, gula merah, lada, kakao dan lainnya.

Sekaligus juga menjadi pusat keuangan, simpan pinjam, dan menjadi toko serba ada, sehingga warga tidak perlu lagi ke repot-repot turun ke poros Wolo-Kolaka hanya sekadar membeli kebutuhan sehari-harinya.

BUMDes ini didirikan padea tanggal 01 April 2016 atas hasil musyawarah warga desa, dengan telah melengkapi pengurus, seperti potensi desa yang dapat dikelola oleh badan usaha ini seperti, embung desa,pemanfaatan Hasil Hutan Desa, wisata Batu/Gua Sembilan, ekosistem hutan  enau/aren, pasar desa, pemukiman warga, pengelolaan air bersih dari mata air sepanjang sungai-sungai di halaman belakang dusun-dusun, wisata alam (air terjun), dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang sudah dinikmati oleh semua dusun-dusun.

Berdasarkan Keputusan Kepala Desa Ulurina No.27 tahun 2017 tentang kelengkapan pengurus dan pengaktifan serta penambahan unit-unit usaha.
Pembina                                    : Muhammad Basir
Badan Pengawas                          :
Ketua                                           : Mardin
Wakil Ketua                                 : Hardi Sale
Sekretaris                                      : Mulyadi
Direktur                                        : Nurwahi.S
Sekretaris                                     : Nur Aida
Bendahara                                     : Salma
Kepala Unit Usaha Perdagangan : Muh. Iqbal
Kepala Unit Usaha PLTMH : Hardi
Kepala Unit Usaha SPP               : Kaharuddin

Sejak tahun 2016, sudah ada dana penyertaan modal sebesar Rp.40.153.400. Lalu ditambah lagi tahun 2017, sebanyak Rp.100 juta, sehingga total nilai penyertaan modal keseluruhan Rp. 140.153.400.

MENU UTAMA

Koptan Rumput Laut Buton Tengah Deklarasikan Gus Imin Presiden 2024

LAKUDO – SC. Sebanyak 36 orang anggota Kelompok Tani Rumput Laut Desa Matawine Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Sulawesi Tenggara me...